fbpx

BATIK GUCIMAS

SEJARAH BATIK TRUNTUM

TAUKAH KAMU MOTIF TRUNTUM?

Pertama kali diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kencana (permaisuri sunan paku buwana III) yang bermakna cinta yang tumbuh kembali. Ia menciptakan motif ini sebagai simbol cinta yang tulus tanpa syarat, abadi, dan semakin lama semakin terasa subur berkembang (tumaruntum)

SEJARAH BATIK TRUNTUM

Batik turuntum diciptakan oleh permaisuri Sunan Paku Buwana III dari Surakarta Hadiningkrat yautu Knjeng Ratu Kencana Atau biasa disebut Ratu Beruk yang memiliki makna cinta yang tumbuh kembali. Jika kita perhatikan secara seksama, batik truntum memiliki tananan yang tampak seperti bintang yang gemerlap dimalam hari. Sejarah batik truntum berawal dari sang ratu beruk yang tak mampu memberikan keturunan kepada Pakubuwono III sehingga membuat sang raja berniat untuk menikah lagi.

KISAH DAN ASAL-USUL BATIK TRUNTUM

Kanjeng Ratu Kencana sepertinya tidak dapat berbuat apa-apa lagi karena keputusan sang raja tidak dapat diganggu gugat, kemudian sang ratu merenung sampil menatap bintang di langit. Untuk mengusir kesendirian dan kesedihannya, sang ratu memulai kegiatan membatik dengan membuat motif batik bintang dilangit kelam yang selama ini selalu menemani kesendiriannya. Suasana langit ditengah malam saat itu tak ada bulan, namun masih terdapat banyak bintang sebagai penerang dimana selalu ada kemudahan dan harapan di dalam kesulitan. Maka dari itu ia menciptakan motif berupa taburan kuntum bunga melati seperti bintang yang bertaburan di langit.

MAKNA DAN HARAPAN TRUNTUM

Batik Truntum merupakan jenis motif klasik yang terus dilestarikan samapai sekarang dengan mengenakannya pada saat acara pernikahankarena memiliki makna harapan agar kasih cinta para mempelai terus berkembang dan terjaga dalam kebahagiaan. Kain batik truntum ini bisa dikenakan oleh orang tua kedua mempelai pada saat pernikahan dengan tujuan untuk ‘menuntun’kedua mempelai dalam memasuki kehidupan baru karena juga mengandung makna ing ngarsa sung tuladha dimana orang tua menjadi contoh atau tuladha bagi anaknya yang dianggap sudah lulus dari sebuah ujian cinta kasih sehingga dianggap layak dan wajib untuk menuntun mempelai pengantin memasuki babak kehidupan baru agar turun kepada mempelai sebagai wujud sikap tut wuri handayani yaitu rangkaian keteladanan dan harapan yang diwakili oleh motif batik truntum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang (0)
Total 0
Lanjut ke pembayaran
0